Announcement:

Bergabunglah Bersama Kami di Subang Grey Hat

Minggu, 16 Maret 2014

Menelusuri Sejarah Penerbangan di Lanud Suryadarma Kalijati, Subang

Sebuah gedung kuno peninggalan pemerintah kolonial Belanda hampir seabad lalu masih berdiri kokoh di komplek Lanud Suryadarma, Kalijati Subang. Dahulu gedung ini merupakan salah satu hanggar utama yang digunakan untuk pesawat-pesawat tempur Belanda.  Kini, hampir 100 tahun kemudian hanggar tersebut masih menjadi tempat parkir pesawat, namun sesuai umurnya yang sudah tua,  pesawat yang disimpan di sana juga berupa pesawat-pesawat kuno koleksi museum Amerta Dirgantara Mandala.
Museum ini diresmikan oleh Marsekal TNI Ashadi Tjahyadi pada tanggal 10 April 1982.  Adalah Marsda TNI Ramli Sumardi yang menggagas pendirian museum ini. Melalui Yayasan Adi Upaya beliau mencetuskan gagasannya tersebut kepada pimpinan TNI AU untuk mendirikan proyek “Repair and Maintenance”. Pada tanggal 10 Juni 1975 oleh Ketua Yayasan Adi Upaya Marsda TNI Soeryono gagasan tersebut diajukan kepada Pimpinan TNI AU. Kemudian gagasan tersebut berkembang menjadi rencana mendirikan “Living Museum” (Museum Hidup) dengan maksud untuk menampung dan memelihara pesawat yang telah dihapus dari kekuatan TNI AU sehingga pesawat tersebut tetap dapat diterbangkan.
Sebagai tindak lanjut, maka dikeluarkan Surat Perintah KASAU Nomor: Sprin/12/II/1978 tanggal 13 Februari 1978 yang menugaskan kepada tim untuk melaksanakan tugas-tugas kegiatan persiapan pendirian Museum di Kalijati yang saat ini menjadi Lanud Suryadarma. Melalui Keputusan KASAU Nomor: Kep/19/IX/1979 tanggal 29 September 1979 tentang penyempurnaan Struktur Organisasi  Dinas Sejarah TNI AU maka terbentuk dan terwujudlah Museum Amerta Dirgantara Mandala.
 Koleksi pesawat yang terdapat di museum tersebut diantaranya pesawat Lock Heed L-12 yang merupakan koleksi pesawat kuno terbesar yang ada di museum Amerta Mandala. Pesawat buatan Kanada ini memiliki panjang 12.8 meter. Pesawat angkut ringan ini merupakan hasil penyerahan dari militer Belanda tahun 1950. Selanjutnya pesawat ini digunakan sebagai pesawat latih di sekolah penerbang lanjutan Andir dan Kalijati dengan nomor registasi T-303.
Pesawat Lock Heed L-12 yang merupakan koleksi pesawat kuno terbesar yang ada di museum Amerta Mandala, Lanud Suryadarma, Subang.
Pesawat Lock Heed L-12 yang merupakan koleksi pesawat kuno terbesar yang ada di museum Amerta Mandala, Lanud Suryadarma, Subang.
Adapula pesawat Gelatik PZL – 104. Pesawat ini diproduksi oleh Lembaga Industri Pesawat Terbang Nurtanio dibawah lisensi PZL-104 Wilga, Polandia tahun 1965 jauh sebelum IPTN memproduksi CN-250 tahun 1995. Disebelahnya terdapat pesawat PIPER CUB L-4J yang merupakan pesawat hasil penyerahan dari Militer Belanda tahun 1950. Pesawat yang kemudian menjadi kekuatan intai darat skuadron udara 4 ini berperan dalam penumpasan pemberontakan DI/TII di Jawa Barat.
Pesawat kuno Cessna – 180 juga menjadi bagian koleksi museum ini. Pesawat hasil penyerahan dari Militer Belanda tahun 1950 ini kemudiana menjadi kekuatan intai darat skuadron udara 4 dengan nomor registrasi L-182. Tepat disebelahnya terdapat pesawat Grumman Goose G21A. Pesawat buatan Kanada ini menjadi kekuatan TNI pada tahun 1957 sebagai pesawat intai laut dan SAR di Skuadron 5 dengan nomor registrasi PB-521.
Di hanggar ini terdapat pula sepasang rudal sepanjang 10.9 meter. Rudal buatan Rusia ini dahulu dipersiapakan untuk kekuatan TNI dalam operasi Trikora dan Dwikora. Rudal ini dapat menempuh jarak 36 km dengan kecepatan 1,110 km/detik dan dapat menghancurkan hingga radius 60 meter dari pusat ledakan.
Ruang Pamer Sejarah Pendidikan Penerbangan Indonesia
Ruang Pamer Sejarah Pendidikan Penerbangan Indonesia
Sisi lain hanggar juga digunakan untuk ruang pamer sejarah sekolah penerbangan di Indonesia. Hal ini untuk mengenang Lanud Suryadarma yang merupakan sekolah penerbangan pertama di Indonesia. Ditempat inilah kadet-kadet penerbang pertama Indonesia dididik ketika itu. Berbagai foto dan memorabilia sejarah penerbangan Indonesia disusun secara kronoligis di ruang pamer, sehingga kita bisa dengan mudah menelusuri sejarah penerbangan Indonesia.
Dibagian lain museum ini terdapat beberapa pesawat terbang layang yang masih digunakan para atlet terbang layang nasional yang berlatih di lanud Suryadarma. Selain museum Amerta Dirgantara Mandala, di lanud Suryadarma juga terdapat museum rumah sejarah, tempat berlangsungnya perjanjian pemindahan kekuasaan dari pemerintah Belanda kepada Jepang tahun 1942. Perjanjian ini menandai berakhirnya 350 tahun penjajahan Belanda di Indonesia.
museum amerta dirgantara mandala lanud suryadarma subang
Museum Amerta Dirgantara Mandala Lanud Suryadarma Subang
museum amerta dirgantara mandala subang 6
Hanggar C yang didirikan tahun 1917 ini kini difungsikan sebagai museum Amerta Dirgantara Mandala
museum amerta dirgantara mandala lanud suryadarma subang 4
Pesawat Lock Heed L-12 yang merupakan koleksi pesawat kuno terbesar yang ada di museum Amerta Mandala, Lanud Suryadarma, Subang.
museum amerta dirgantara mandala lanud suryadarma subang 3
Pesawat Gelatik PZL – 104 diproduksi oleh Lembaga Industri Pesawat Terbang Nurtanio dibawah lisensi PZL-104 Wilga, Polandia tahun 1965
museum amerta dirgantara mandala lanud suryadarma subang 1
Pesawat Grumman Goose G21A buatan Kanada ini menjadi kekuatan TNI pada tahun 1957 sebagai pesawat intai laut dan SAR di Skuadron 5 dengan nomor registrasi PB-521
subang lanud suryadarma
Ruang Pamer sejarah Pendidikan Penerbangan Indonesia di Museum Amerta Dirgantara Mandala
museum amerta dirgantara mandala lanud suryadarma subang 2
Koleksi Museum Amerta Dirgantara Mandala Lanud Suryadarma Subang

Share it Please

Subang

Tidak Ada System Yang Sempurna, Jangan Putus Asa Ketika Gagal dan Jangan Besar Kepala Ketika Berhasil
Comments
0 Comments

0 Komentar Member:

Posting Komentar

Copyright @ 2014 SGH. Designed by Subang Grey Hat | Love for Subang Grey Hat